Sunday, June 23, 2013

Resensi Puisi - AKU



Chairil Anwar
AKU

Kalau sampai waktuku‘Ku mau tak seorang kan merayuTidak juga kau
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Tak perlu sedu sedan itu
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Analisis:

Dalam baris pertama “kalau sampai waktuku” si “aku” membuang semua kekhawatirannya tentang suatu kematian. Dia tidak lagi perdulu kepada siapa saja yang merayunya. Tidak juga kekasihnya atau pun orang yang dicintainya.

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Si “aku” memesankan kepada orang-orang terdekatnya supaya melepasnya, jika saatnya telah tiba menghadap sang khalik/pencipta. Bahkan dia menyebt-nyebut dirinya sebagai binatang jalang, Sebuah simbol kehinaan (merendahkan dirinya sendiri).

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih peri

Si “aku” berterus terang tentang apa yang telah di deritanya, tapi dia tetap mencoba untuk menanggungnya sendiri. Karena jika saatnya tiba, semua perih akan hilang. Perih yang dimaksud disini adalah cobaan hidup, kita diminta untuk tetap menjalani semua cobaan seberat apapun itu dihidup ini, karena akan ada saatnya dimana kita sudah tidak bisa merasakan sakitnya cobaan hidup. 

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Si “aku” ingin hidup seribu tahun lagi. Di sini Chairil telah menjelma si “aku”. Walaupun raganya telah tiada, tapi dia ingin karyanya tetap hidup selamanya
Dan memberi nasihat kepada pembaca untuk memanfaatkan setiap detik kehidupan dengan berguna, sehingga saat raga kita telah tiada, tetapi jasa dan pengorbanan kita selama hidup akan tetap ada dan dikenang oleh orang dari masa ke masa. 

source: sigodangpos.blogspot.com



1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...