Friday, September 7, 2012

Kesempatan Terakhir

-->
"kamu serius Dit?” aku meyakinkan. Oh my God! Serasa ada bom atom yang meledak dalam waktu dekat, yang detiknya sedang berjalan di jantukku.
“iya Alya, aku serius suka sama kamu.” Dan bom itupun meledak!“Dit, udah malem. Ehm, mamaku pasti khawatir. A..ak..akuu.. pulang ya?” saking shocknya, aku nyaris pingsan dan terjatuh di dalam dadanya radit yang bidang. Dan bodohnya, aku langsung menyingkirkannya sehingga aku jatuh terhempas ke permukaan rumput taman.

Akhirnya aku pun bangun dan berjalan tertatih-tatih. Tiba-tiba, Radit menarik tanganku dan menaruh lenganku melingkari bahunya. Aku berusaha menjauhi Radit bukan karena aku tidak menyukainya, itu sangat salah besar! Aku menjauhinya karena aku merasa Radit adalah sosok yang sangat sempurna, terlalu mewah untukku miliki.

“Al kamu sakit? Aku anterin pulang ya?” Radit menatap mataku sejenak, sebisa mungkin aku tutupi mataku dengan menundukkan kepala. “Alya? Maaf ya gara-gara aku , kamu jadi sakit begini. Harusnya aku enggak maksa kamu buat datang ke taman malem-malem bagini. Masuk mobil, aku anter kamu pulang.” Radit membawaku ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, “Dit, aku udah enggak apa-apa kok. Turunin aku disini aja.” Aku secara reflek menggenggam tangan kiri Radit yang berada di perseneling mobilnya, dan Radit pun berhenti lalu menoleh ke arahku dengan tatapan setajam samurai. ‘DEG!’ jantungku berhenti – kurasa.
“Al?” Radit menatapku terus.
“iya Dit?” aku menjawab sangat cepat, secepat suara denyut jantungku.
“malam ini kamu…” Radit menggantung perkataannya. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahku. OMG! Sesaat aku sulit menahan napas, sehingga kutahan karbondioksida yang ingin keluar itu dalam paru-paruku.
“malam ini kamu terlihat bodoh! Gugup ya? Hahaha..” aku melotot ‘what? Separah itukah sikapku malam ini?’ ocehku dalam hati dan Radit langsung bertanya, “ehm, maaf al.” kata Radit yang sepertinya mengerti bahasa isyaratku yang sedang memelototinya.
“aku kan emang bodoh dit! Baru tau ya? Haha..” aku merasa tambah bodoh ketika menertawakan diriku sendiri. Radit pun hanya menjawab dengan senyuman yang menurutku itu artinya ‘iya’. Dan dia menyalahkan mesin mobilnya lagi, dan mengantarkan aku pulang sampai depan pintu rumahku tanpa berkata apapun.
Paginya, Radit menjemputku disaat aku sedang keluar rumah, disaat aku sedang berpose menggigit roti bakarku, sambil mengkuncir rambutku, sambil memakai sepatu yang talinya terurai. “tiiin..tiiin..” Radit membunyikan klakson mobilnya.
“Radit??” aku meyakinkan.
“Pagi Alya!” Radit menyapaku dengan sedikit kedipan mata yang membuatku lemas, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak terjatuh dengan pose yang menurutku ‘enggak banget.’.
“kamu ngapain disini, Dit?” ucapku dengan mulut penuh dengan roti bakar.
“ya jemput kamulah, pacarku… haha” Radit menggodaku.
“tapi aku sudah memesan taksi itu Dit, maaf.” Ucapku sambil menunjuk taksi yang sedang terparkir depan rumahku.
“udah, ikut aku aja yuk Al! ini kan hari pertama kita jadian, bisa jadi hari terakhir juga lho.. kalau disia-siakan. Hehehe..” ehm, Radit mengancamku. Akupun langsung menyuruh taksi itu pergi dan membayar argonya yang sudah berjalan selama menungguku tadi. Akupun diantar Radit sampai di sekolah. Dan pulang sekolahpun Radit setia menungguku di depan kelas. Karena Radit terlalu mengexpose hubungan baru kita, otomatis anak-anak satu sekolah heboh dan sibuk mengintrogasi aku dan Radit.
“Dit, aku naik bus atau taksi aja deh.. aku mau ke kantor mama dulu, aku enggak mau nyusahin kamu.” Kataku pada Radit sepulang sekolah.
“enggak apa-apa Al, aku siap nganterin kamu kemanapun! Aku enggak mau kamu kenapa-kenapa.” Ucap Radit yang kata-katanya membuat aku makin menyukainya. Tapi aku sok tak peduli, sehingga aku terus berjalan meniggalkan Radit yang terus mengejarku dengan mobil mewahnya sampai halte depan jalan raya sekolah. Ketika aku sedang menyebrang, aku melihat sebuah truk besar menghampiriku.
“aaaa…” aku langsung berlari menuju halte. Tapi mobil Radit menyebrang cepat, mungkin radit mengira aku akan tertabrak, ternyata aku lolos. Tapi Radit?
“ALYA !!” Radit meneriakiku dari mobil, dan ‘DHUAR!’ terdengar sebuah mesin mobil meledak tepat di belakangku ketika aku berlari. Ketika aku menoleh kebelakang, Mobil Radit sudah terbakar, api yang sangat besar. Baru ku tahu ternyata Radit berusaha menyelamatkanku dengan menghentikan mobil truk pengangkut minyak tanah yang nyaris menabrakku. Baru ku sadari, ternyata rasa sayang yang Radit miliki untukku melebihi rasa cintaku padanya. Aku panik, aku langsung berusaha menghampiri mobil Radit. Tapi semua orang menghalangiku, sampai akhirnya ku temukan sebuah petugas sedang mengangkut mayat dari dalam mobil Radit, dan aku menemukan sepasang cincin bertuliskan ‘radit & alya’ yang berada di jari manis Radit, dan satu lagi berada di genggaman tangan kanan Radit …

by : Ayu Indriati Rahayu
:)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...